Penelusuran Hubungan Intertekstualitas Ayat-Ayat Suci dalam “Ayat-Ayat Cinta”

Standar

Ayat-Ayat Cinta: Novel Pembangun Jiwa
Para pecinta buku, terutama buku-buku fiksi islami di tanah air tentu tidak asing lagi dengan novel berjudul Ayat-Ayat Cinta (AAC) karangan Habiburrahman El Shirazy. Novel yang pada mulanya dimuat dalam harian Republika ini merupakan cerita bersambung. Novel populer ini kini telah dicetak lima belas kali (Juni 2006), dan lebih dari 110 ribu eksemplar telah terjual habis di pasaran.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kepiawaian si penulis dalam meramu cerita dalam novel AAC. Meskipun sudah dua kali, banyak para pembaca mengaku masih ingin membaca ulang novel ini. Sebuah novel yang sangat memikat dan mengagumkan (Republika, Juli 2006). Demikian pujian-pujian yang didengungkan banyak pemerhati novel AAC ini.
Habiburrahman mengaku bahwa ide menulis kisah itu diperoleh ketika meresapi Surat az Zuhruf ayat 67 dan Surat Yusuf. Kandungan ayat-ayat tersebut menjadi ilham dan inspirasi baginya untuk menulis dengan kata-kata yang indah. Ayat-ayat tersebut berisi kisah cinta yang universal (Eramuslim, Mei 2006).
Membaca AAC, kita dapat merasakan sebuah novel cinta yang romantis namun sekaligus islami. Sebuah novel yang kini menjadi mainstream dalam perkembangan sastra Indonesia mutakhir. Novel AAC mampu menandingi fenomena sastra sekular yang sebelumnya begitu populer. Sebuah fenomena sastra yang lebih banyak mengumbar seksualitas dalam karyanya. Sebut saja misalnya Ayu Utami, Jenar Maesa Ayu, atau Fira Basuki.
Habiburrahman mampu membungkus AAC dengan kemasan fiksi romantis dengan penggarapan tema-tema dan konflik-konflik yang islami namun tidak vulgar. Kemahiran tersebut juga didukung dengan latar atau setting cerita di dunia Islam (Mesir). Hal itu menjadikan AAC begitu hidup dan kaya akan imagi budaya Islam.
Jika dicermati, sejak lembar-lembar pertama hingga lembar terakhir banyak kutipan ayat-ayat al Quran, hadis-hadis Nabi, bahkan puisi-puisi dan pendapat-pendapat para ulama dalam AAC. Karena itu, tidak salah jika novel ini disebut sebagai novel cinta, novel reliji, atau novel budaya, sebagaimana dikatakan Hadi Susanto dalam pengantarnya dalam AAC. Dan juga tidak berlebihan kalau Ahmad Tohari menyebut AAC sebagai novel pembangun jiwa.
Teks-teks yang ditemukan dalam AAC, sebagaimana tersebut, sebagian besar bersumber dari al Quran dan hadis. Selain itu, ada juga teks-teks atau karya-karya lain yang turut dikutip, antara lain kutipan sajak Fatin Hamama berjudul Aku Ingin Ibu, Ibu (3), dan Tuhan dan Titahnya yang terdapat dalam kumpulan puisinya Papyrus (hal. 203, 225), puisi penyair Perancis Paul Varlaine berjudul Lagu Hujan (hal. 234), atau puisi karya penyair Belgia Emile Verhaeren berjudul Saat-saat Sadar (hal. 361).
Selain yang tersebut, AAC juga mencantumkan karya-karya ilmiah lain yang dijadikan rujukan (hal. 405). Jika dihitung keseluruhan teks atau karya-karya yang dikutip itu berjumlah 18 buah (1 kitab suci, 1 hadis, 6 sajak, 10 buku ilmiah yang seluruhnya dalam bahasa Arab!).
Membaca suatu karya sastra akan lebih optimal bila kita memahami keseluruhan teks yang ada dalam karya tersebut. Untuk memahami AAC, dengan demikian, kita perlu juga memahami teks-teks yang diserap atau dikutip dalam novel tersebut agar mata rantai pemahaman keseluruhan makna dalam novel tersebut tidak terputus begitu saja.
Tulisan ini hendak mengkaji hubungan antara teks-teks yang terdapat dalam AAC itu. Dalam kritik sastra, studi yang memfokuskan perhatian pada hubungan antara teks dengan teks yang lain disebut intertekstualitas (selanjutnya disebut interteks). Namun, mengingat keterbatasan yang tidak dikehendaki (waktu, sarana, dan kemampuan) maka hanya beberapa teks atau karya saja yang akan dikaji. Dari 18 buah karya itu, 3 di antaranya diseleksi dan akan difokuskan dalam tulisan ini. Ketiga teks tersebut yaitu al Quran, al Hadis, dan karya Abdul Wadud Syalabi yang berjudul Limadza Takhafunal Islam?.

Intertekstualitas dan Genetika Teks
Konsep interteks pada awalnya berasal dari aliran strukturalisme. Interteks ini lalu dikembangkan oleh Julia Kristeva (Teeuw, 1984: 145). Menurut Kristeva “Setiap teks itu merupakan mosaik, kutipan-kutipan, penyerapan, dan transformasi teks-teks lain.” (Noth, 1990: 323). Dalam prinsip interteks ini Kristeva menegaskan bahwa setiap teks sastra harus dipahami dengan latar belakang teks-teks lain karena tidak ada sebuah teks yang mandiri. Dengan kata lain, sebuah karya sastra itu tidak lahir dari situasi kosong budaya (Teeuw, 1980: 11).
Lebih lanjut, Pradopo (1987: 227-228) menerangkan bahwa pengertian prinsip mosaik Kristeva adalah suatu teks mengambil hal-hal yang bagus dari teks lain kemudian teks-teks itu diolah kembali dalam karyanya tersebut, atau karya yang ditulis oleh sastrawan kemudian. Dengan demikian, pengarang (sastrawan) itu memperoleh gagasan, inspirasi, atau ide setelah membaca, melihat, meresapi, menyerap, mengutip bagian-bagian tertentu dari teks-teks ke dalam karyanya itu.
Prinsip interteks memiliki dua fokus, sebagaimana dikemukakan Culler (dalam Susanto, 2003: 154), yakni pentingnya teks yang terdahulu dan teks terdahulu sebagai penyumbang kode yang memungkinkan lahir kembangnya beragam signifikasi. Teks atau karya yang ada sebelum sebuah karya sastra diciptakan disebut teks hipogram. Karya sastra yang lahir kemudian disebut karya atau teks transformatif. Menurut Faruk (dalam Santoso, 2003: 154) hipogram dibagi dua, yaitu hipogram potensial (yang terkandung dalam bahasa sehari-hari atau berupa gagasan dan ide), dan hipogram aktual (yang berupa teks-teks yang sudah ada sebelumnya).
Langkah-langkah yang biasa ditempuh dalam prinsip interteks adalah dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan teks transformasi dengan teks-teks lain yang diacu (Nugroho, 2001; Santoso, 2003: 155). Tujuannya adalah untuk mendapatkan makna yang lebih luas dan optimal (Suwondo, 2003: 137).
Dalam kaitannya itu, perlu pula diadakan penelusuran teks-teks yang menajdi dasar acuan, inspirasi, atau ide penciptaan sebuah karya sastra. Penelusuran jejak dan asal usul teks dan hubungan interteks tersebut oleh Yappar disebut genetika teks. Genetika teks diperlukan untuk mengetahui teks-teks apa saja yang menjadi sumber resapan, kutipan, dan inspirasi dalam sebuah karya sastra yang kemudian dioleh secara kreatif oleh pengarangnya.

Ayat-Ayat Suci dalam Ayat-Ayat Cinta
Habiburrahman mengaku ketika ia meresapi Surat Yusuf dan Surat az Zukhruf, ia memiliki kekuatan untuk menulis sebuah cerita. Al Quran memang sumber inspirasi terbesar bagi karya-karyanya selain pula pengalaman belajar di Mesir (Eramuslim, Mei 2006). Karena itu, tidaklah mengherankan jika kita temukan banyak kutipan ayat-ayat al Quran dalam AAC, di samping kutipan-kutipan hadis Nabawi. Secara keseluruhan terdapat 24 kutipan ayat-ayat al Quran yang ditemukan dalam AAC dan 21 kutipan hadis-hadis Nabi.

Genetika Teks Ayat-Ayat Suci
Kutipan-kutipan itu bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Yang saya maksud dengan kutipan langsung adalah kutipan ayat-ayat al Quran atau hadis Nabi yang diketahui sumbernya melalui catatan kaki yang ditambahkan oleh si penulis. Kutipan tidak langsung adalah kutipan ayat-ayat al Quran atau hadis Nabi yang tidak dijelaskan sumbernya oleh penulis kecuali hanya menyebutnya berasal dari al Quran atau hadis. Untuk kutipan jenis terakhir ini, kita bisa menelusuri jejak teks ayat-ayat al Quran melalui kitab Fathurrahman dengan cara mencari kata kunci dari ayat tersebut. Dengan demikian, kita dapat mengetahui ayat dan surat keberapa teks tersebut dalam al Quran.
Kita temukan misalnya, kutipan dalam AAC berikut yang mengandung ayat al Quran (hal. 363).
“Ingat baik-baik, Anakku, wa man yattaqillah yaj’al lahu makhraja!”
Dalam hal ini, Habiburrahman tidak menyebutkan bahwa potongan kalimat yang bercetak miring tersebut merupakan potongan atau ayat al Quran. Kita tidak mendapatkan secara langsung melalui catatan kaki kecuali terjemahan dari kalimat tersebut, yakni “dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Dia akan menjadikan untuknya jalan keluar.” Dengan bantuan kitab Fathurrahman, diperoleh informasi bahwa kalimat tersebut merupakan kalimat yang terdapat dalam al Quran Surat….? Ayat….?
Selain itu, Habiburrahman seringkali menyebutkan ayat-ayat al Quran tanpa menyebut ayat dan surat keberapa teks tersebut dikutip. Perhatikan kutipan berikut ketika Maria, seorang Arab Kristen Koptik, yang merasa risih dengan keponggohan seorang doktor Arab muslim yang menganggap al Quran tidak beres dari segi bahasanya.
Doktor itu mencontohkan dalam al Quran ada rangkaian huruf yang tidak diketahui maknanya. Yaitu, alif laam mim, alif laam ra, haa miim, yaa siin, thaaha, nuun, kaf ha ya ‘ain shaad, dan sejenisnya…. Aku saja yang Koptik bisa merasakan betapa indahnya al Quran dengan alif laam miim-nya. Kurasa rangkaian huruf-huruf seperti alif laam miim, alif laam ra, ha miim, yaa siin, nuun, kaf ha ya ‘ain shaad adalah rumus-rumus Tuhan yang dahsyat maknanya…. Jika susunan itu dianggap sebagai suatu ketidakberesan, …. Tentu mereka sudah mencela bahasa al Quran habis-habisan sepanjang sejarah.
Dalam kutipan tersebut kita temukan teks alif laam mim, alif laam ra, haa miim, yaa siin, thaaha, nuun, kaf ha ya ‘ain shaad. Terdapat pada surat apakah teks-teks tersebut? Sekali lagi dengan bantuan Fathurrahman kita dapat menelusuri genetika teks tersebut. Secara bertutur-tutur teks tersebut merupakan potongan dari Surat….? Ayat…?

About kamalinev

Lahir 6 Juni 1979 (udah tua juga ya!) di Babat Lamongan Jawa Timur. Sejak kecil sudah merantau ke sana kemari, tinggal dari satu daerah ke daerah yang lain. Umur 5 hingga 7 tahun tinggal di Gresik. Seterusnya ikut tinggal bersama orang tua di Bondowoso, sebuah kota kecil di timur Banyuwangi, hingga selesai SD. SMP ia lanjutkan di Probolinggo sekaligus nyantri di Nurul Jadid Paiton. SMA dilanjutkan di Jember, tinggal bersama orang-orang “gila” di sebuah asrama penderitaan bernama MAPK, sebuah tempat berkumpulnya anak-anak pilihan seantero Jawa Timur. Bosan dengan kehidupan di Jawa Timur, lanjut lagi merantau ke Bandung, di sana studi di Univ. Padjadjaran. 4 tahun dirasa cukup tinggal di tanah Pasundan, pindah lagi untuk studi di Univ. Indonesia, Jakarta (Depok). Pada tahun 2004 selepas lulus kuliah S2 dari UI, diputuskan untuk tinggal dan bekerja di Surabaya, hingga saat ini. Tapi ini bukan pilihan terakhir. Jika dirasa perlu, nanti akan ada hijrah lagi, entah kapan….

13 responses »

  1. ketika Kristeva menyatakan bahwa setiap teks merupakan mozaik, kutipan, dan penyerapan dari teks-teks yang lain bukankah yang dimaksud dengan “teks-teks yang lain tidak berhenti pada teks berupa tulisan tetapi teks yang lebih luas lagi berupa pengalaman ataupun kehidupan yang kemudian diserap oleh pengarang, begitu kata dosen saya. Kalau menurut bapak bagaimana?

  2. teks tidak hanya dipahami secara tertulis, teks juga meliputi pengalaman, kebudayaan, cara pandang, kepercayaan, atau juga simbol-simbol. dosen anda tidak salah mengatakan hal seperti itu. sampean juga .

  3. referensi lain mengenai intertekstualitas ada nggak?…setauhu saya ada norman fairclough tapi hanya menyinggung sedikit saja…trus buku kristeva itu judulnya apa?..terima kasih…

  4. Saya sedang menulis skripsi tentang hubungan Interteks. Tulisan anda sangat membantu. Terima kasih. Kebetulan teks-teks yang saya analisis juga berhubungan dengan kitab suci dan menggunakan metode hermeneutika. Sebelum membaca tulisan anda, saya masih bingung bagaimana mengerjakan skripsi saya. Sekali lagi, terima kasih.

  5. Alow…asik juga baca kajian2 linguistik dan sastranya. Kebetulan aku lagi cari tau ttg intertekstualitas. Jadi dapat reference deh… hehehe… thanks ya boss…🙂

  6. Saat ini saya sedang menyusun skripsi berjudul HUBUNGAN INTERTEKSTUAL NOVEL SYAHADAT CINTA DENGAN NOVEL AYAT-AYAT CINTA. penelitian Anda tentang genetika teks ini sangat membantu bahan skripsi saya.

  7. Assalamualaikum Wr.Wb

    Saya agak bingung dengan konsep hipogram. Bagaimana caranya menentukan suatu teks hipogram atau bukan, bagi teks lainnya? Adakah ciri-ciri khusus bagi sebuah teks untuk bisa disebut hipogram? Apabila ditemukan persamaan diantara 2 teks, misalnya, apa bisa disimpulkan bahwa teks tersebut merupakan hipogram bagi teks lainnya?
    Saya tertarik untuk menggunakan konsep ini untuk skripsi saya kelak, bisakah anda membantu saya dengan memberikan sumber-sumber tantang interteks?
    Terimakasih.

  8. Ass. saya sedang menyusun penelitian tentang ayat-ayat cinta. fokus penelitiannya tentang pesan dakwah dan validitas sumber hadist yang diangkat pada novel tsb.
    karna twman saya (seorang mesir) ternyata mengkritik pedas novel ini, pada validaitas hadist yangh dijadikan landasan oleh kang abik sebagai penulisnya.

    jika ada temen-teman yang tertarik tentang wacana yang sama, saya mengajak untuk berbagi pengetahuan. terimakasih.

    “rufy14@yahoo.com”

  9. dalam memahimi Novel Pembangun Jiwa ini, interteks dalam teks karya tersebut juga cukup baik dan relevan. pembahasan dari teks-teks yang ada dan dipahami satu persatu.

  10. saya tertarik dengan kajian intertekstual. alasannya ialah karya sastra bukanlah sesuatu hal yang lahir scera sendirinya malainkan mengikuti pola konvensi karya sastra sebelumnya. hanya yang membedakan ialah antara konvensi dengan revolusi.

  11. sudah saatnya para ustadz menulis novel yang islamy, untuk membangun bangsa bersaing dengan novel sekuler.kita garap seluruh generasi lewat karya tulis.saya yakin dengan tulisan kita mampu mengubah pola fikir dan pola hidup.

  12. segalanya bersumber dari al-quran,, jd y sgalanya ter–interteks–kan
    hmmmm,, mg allah memaklumi kebodohan q dalam menafsirkan sesuatu yg masih buram di mata q

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s