Mencari Teknik Pembelajaran Membaca Arab?

Standar

Teknik-teknik pembelajaran membaca yang biasa ditawarkan hingga saat ini dirasa belum menyentuh semua bahasa. Artinya, teknik pembelajaran membaca tersebut lebih banyak menyinggung bahasa-bahasa dengan sistem tulisan tertentu dan tidak memberikan alternatif terhadap bahasa (bahasa) dengan sistem tulisan yang lain.
Bahasa-bahasa di dunia berdasarkan sistem tulisannya dapat digolongkan menjadi dua. Penggolongan tersebut didasarkan pada pola yang terdapat pada kata bahasa, yakni—apa yang saya sebut dengan— pola KV (dengan segala variasinya) dan pola KK. Sistem tulisan dengan pola KV berarti bahwa sebuah kata terdiri atas (beberapa) konsonan dan vokal. Bahasa-bahasa yang mengadopsi sistem tulisan semacam ini misalnya, bahasa Latin dengan sistem tulisan latin, bahasa Cina dengan sistem tulisan kanji, dan bahasa Jawa dengan sistem tulisan Hanacaraka. Dengan pola sistem tulisan ini masyarakat pembaca dengan mudah dapat membaca sebuah kata dengan artikulasi sesuai dengan kata yang dimaksud dalam tulisan (bahasa) tersebut. Kata sacred misalnya akan dibaca sesuai dengan tulisan yang termaktub—terlepas dari tepat tidaknya pelafalan kata berdasarkan ejaan bahasa tersebut.
Pola kedua, menggambarkan bahwa sebuah kata dalam bahasa ditulis hanya konsonannya saja. Bahasa-bahasa yang mengunakan sistem tulisan ini misalnya, bahasa Arab dan Ibrani. Dengan demikian sebuah atau beberapa kata yang ditulis menggunakan sistem tulisan tersebut hanya menyertakan konsonan tanpa ada vokalisasi terhadap konsonan tersebut. Contoh yang menggambarkan sistem tulisan dengan pola ini ialah: , jika ditransliteraskan dalam tulisan latin kata tersebut berbentu KTB. Sistem tulisan ini tidak hanya digunakan oleh masyarakat berbahasa Arab saja, melainkan juga telah tersebar penggunaannya di beberapa wilayah di Asia Tenggara. Di Malaysia tulisan yang menggunakan tulisan Arab disebut Arab Melayu, yakni tulisan menggunakan Arab tapi berbahasa Melayu. Di Indonesia (Jawa) bentuk tulisan ini biasa disebut tulisan Pegon.

Kendala Membaca: Tantangan Solusi
Masalah yang timbul kemudian ialah adanya kendala bagi pelajar atau siswa yang belajar membaca tulisan dengan pola kedua tersebut. Kesulitan ini dirasakan karena mereka tidak dapat membaca tulisan tanpa vokalisasi. Para siswa, karena sistem tulisan yang dianut di Indonesia ialah tulisan Latin, belum terbiasa membaca tulisan Arab ini. Hal inilah yang kemudian menjadi persoalan dalam pembelajaran membaca dalam bahasa Arab.
Sejauh ini saya belum menemukan teknik pembelajaran membaca yang tepat dan efektif dalam bahasa Arab. Kebanyakan siswa banyak terbantu dalam membaca setelah sebuah teks Arab diberi vokalisasi (dalam istilah umum biasa disebut diharkati). Kebiasaan ini jika dibiarkan akan berakibat buruk bagi siswa dalam proses pembelajaran dan penguasaan membaca dalam bahasa Arab. Karena itu, perlu dicari tawaran alternatif teknik pembelajaran membaca dalam bahasa Arab sebab teknik-teknik yang ditawarkan sejauh ini hanya melingkupi bahasa-bahasa dengan sistem tulisan berpola KV.

About these ads

About kamalinev

Lahir 6 Juni 1979 (udah tua juga ya!) di Babat Lamongan Jawa Timur. Sejak kecil sudah merantau ke sana kemari, tinggal dari satu daerah ke daerah yang lain. Umur 5 hingga 7 tahun tinggal di Gresik. Seterusnya ikut tinggal bersama orang tua di Bondowoso, sebuah kota kecil di timur Banyuwangi, hingga selesai SD. SMP ia lanjutkan di Probolinggo sekaligus nyantri di Nurul Jadid Paiton. SMA dilanjutkan di Jember, tinggal bersama orang-orang “gila” di sebuah asrama penderitaan bernama MAPK, sebuah tempat berkumpulnya anak-anak pilihan seantero Jawa Timur. Bosan dengan kehidupan di Jawa Timur, lanjut lagi merantau ke Bandung, di sana studi di Univ. Padjadjaran. 4 tahun dirasa cukup tinggal di tanah Pasundan, pindah lagi untuk studi di Univ. Indonesia, Jakarta (Depok). Pada tahun 2004 selepas lulus kuliah S2 dari UI, diputuskan untuk tinggal dan bekerja di Surabaya, hingga saat ini. Tapi ini bukan pilihan terakhir. Jika dirasa perlu, nanti akan ada hijrah lagi, entah kapan….

18 responses »

  1. Pembelajaran bahasa membutuhkan banyak faktor yang saling terkait dan saling mempengaruhi. Diantara faktor tersebut adalah pemahaman terhadap salah satu elemen dasar dalam pembelajaran bahasa, yaitu membaca. Jika teknik awal dalam pembelajaran bahasa itu harus menggunakan praktek secara langsung, baik dengan cara gerakan atau sarana (alat-alat) yang akan dikaji dalam pembelajaran bahasa tanpa menggunakan sarana bacaan (tulisan), mungkin hal itu akan mempermudah pembelajaran membaca arab.

  2. Afwan nih . . .Saya kebetulan lagi membuat metodologi pembelajaran bahasa Arab yang mudah menarik dan menyenangkan 3M, mudah-mudahan dengan blog ini bisa sharing ya. . . Syukron

  3. Ngapunten njeh. mas.. kl mang yang dipermslhkan adalah tulisan arab tanpa harokat, berarti secara simplenya kan minimal punya bekal kaedah gramatikal arab. baik nahwu atau shorof meskipun hanya tau basicnya saja. N alternatif pmbljrn nahwu shorof yg termudah… menurut saya adala memakai metode “amsilati” (jenengan pernah pirso, dereng,,? .. Maaf sblmnya kalo ternyata tanggapan saya ini ternyata gak nyambung.. ;)). N setahu saya. arab-melayu tidak hanya dipakai di negara malay ataupun Indo saja.. negara thailand selatan (pathani) juga memakai arab melayu.Kebetulan saya mempunyai kawan thailand. Dia pernah menunjukkan kitab kuning “bermakna pegon” melayu. Tapi bukan melayu jawa atau malay.. tapi malay-pathani. Melayu-pathani lebih sulit daripada melayu malaysia.

  4. FAKTA LUGHATUNÂ
    Terbukti: hanya dengan syarat mampu membaca Alquran, dalam 16 pertemuan mampu MEMBACA dan MENERJEMAH KITAB BAHASA ARAB

    http://www.lughatuna.com
    (021) 982 941 24
    e-mail: lughatuna@yahoo.com

    Pada Ahad, 29 Rabiul Awwal 1429 / 6 April 2008, bertempat di Masjid Wadhah Albahr Pusdiklat Dewan Dakwah Tambun Bekasi Jawa Barat, Lughatunâ Arabic Course mengajak kaum Muslimin/Muslimat sekitar menyaksikan keberhasilan Lughatunâ Arabic Course mengantarkan peserta didiknya (yang sebelumnya tidak mengenal bahasa Arab, kecuali bisa membaca Alquran) mampu membaca kitab bahasa Arab (sumber bacaan kitab adalah Zâdul-Ma`âd, jilid 1, hal. 248-250) hanya dalam waktu maksimal 16 pertemuan (per pertemuan 40 menit x 5 jam pelajaran). Bagaimana caranya? Buku Lughatunâ adalah kunci sukses pendidikan bahasa Arab di Lughatunâ Arabic Course.

    BUKU LUGHATUNÂ? Buku Lughatunâ memuat hal-hal yang paling pokok tentang Nahw (tata kalimat) dan Sharf (tata kata) dalam bahasa Arab. Materi yang dipilih berdasarkan pada seringnya suatu tata kalimat atau tata kata digunakan. Materi dan tadribat (latihan) menampilkan penggunaan bahasa dalam lingkup ibadah yang menjadi keseharian individu Muslim, selain juga menggunakan nas-nas (teks-teks) Alquran. Hal lain, buku Lughatunâ disertai cara pembelajaran yang akan membantu Anda mempelajari materi ajar secara mandiri dengan mudah dan cepat, insya Allah.

    BUKU LUGHATUNÂ KAYA INOVASI

    Apa yang membedakan buku Lughatunâ dengan buku pelajaran bahasa Arab lainnya?

    1. Buku Lughatunâ disusun berdasarkan prinsip dan karakteristik warga belajar dewasa.

    2. Buku Lughatunâ disusun untuk pemula.
    Buku Lughatunâ ditulis dengan bahasa Indonesia, sehingga memudahkan bagi pemula yang ingin belajar bahasa Arab. Hanya disyaratkan telah mampu membaca Alquran untuk dapat mempelajari buku Lughatunâ.

    3. Buku Lughatunâ disertai alat pembelajaran.
    Sebagai upaya agar buku Lughatunâ dapat dipelajari secara mandiri, buku Lughatunâ disertai alat pembelajaran, seperti:

    a. Memaparkan cara membentuk kata atau kalimat selangkah demi selangkah, khuthwatan fa-khuthwatan, step by step.

    b. Materi disusun secara hierarki dan berurutan serta disertai tadribat (latihan) secara terpisah.

    c. Halaman buku Lughatunâ dibagi dua.
    i. Badan halaman: memuat pokok bahasan materi.
    ii. Tepi halaman: memuat pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan materi pada badan halaman, atau simpulan materi yang telah lalu.

    d. Menggunakan dua warna: (1) hitam, digunakan untuk huruf-huruf dari kata dasar; dan (2) abu-abu [hitam 50-70 %], digunakan untuk imbuhan (awalan, sisipan dan akhiran) kata.

    4. Buku Lughatunâ menggunakan kosa kata seputar ibadah dan ayat-ayat Alquran.|a

  5. Qurrotu A’yun
    A01207050 (B)

    BAB IV
    KARAKTERISTIK BAHASA ARAB DAN INDONESIA

    Setiap bahasa adalah komunikatif bagi para penuturnya. Dilihat dari sudut pandang ini, tidak ada bahasa yang lebih unggul dari bahasa lain. Namun setiap bahasa memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan bahasa yang lain. Dengan demikian Bahasa Arab (BA) memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dari bahasa lain, dalam hal ini Bahasa Indonesia (BI).
    Utsman Amin (1956) memaparkan sejumlah karakteristik utama bahasa arab secara filosofis yang dapat ditelusuri melalui paparan berikut.

    1.Hubungan Mentalistik antara Subjek –Predikat.
    Struktur kalimat deklaratif bahasa Arab tidak memerlukan adanya kata sarana yang menjelaskan hubungan antara subjek dan predikat. Ungkapan al-ummah al-‘arabiyah wahidatun menetapkan pengertian bahwa bangsa arab itu satu hubungan antara bangsa Arab dan satu bersifat mentalistik belaka dan tidak memerlukan kata sarana penghubung untuk menjelaskan kaitan itu. Adanya hubungan yang jelas ini melekat dalam benak penutur bahasa Arab.

    2.Kehadiran Individu.
    Dalam bahasa arab tidak ada kata kerja yang terlepas dari individu. Individu tresebut tampil dalam kata ganti dan berbagai bentuk verba secara mentalistik melalui berbagai struktur kata dan kalimat. Kehadirannya tidak memerlukan sarana eksternal berupa kata atau tanda baca. Individu tersebut melekat dengan verba dalma strukturnya yang asli. Pada aktubu, yaktubu, dan taktubu tercermin kehadiran aku, kamu dan dia sebagai individu.

    3.Retorika Paralel.
    Robbret B. Kapplan (Wahab, 1991:39-40) mengemukakan tipe-tipe retorika bahasa di dunia sesuai dengan kandungan budayanya yang variatif. Yang dimaksud retorika di sini ialah bentuk atau model berpikir untuk menyatakan maksud yang diinginkan.
    Paralelisme bahasa arab tampak dalam pemakaian kata sarana penghubung antarkata, antarfrase, antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf. Penerjemah sering mengalami kesulitan dalam menerjemahkan nas berbahasa arab -karena nasnya “menumpuk” dan bertemali- sehingga sulit menentukan akhir kalimat. Gejala ini sangat nyata pada buku-buku klasik yang juga dikenal dengan kitab kuning.

    4.Keutamaan Makna.
    Bahasa arab sangat mementingkan unsur makna. Walaupun bahasa arab itu mementingkan tuturan, kepentingannya itu sebatas untuk mengungkapkan makna agar dipahami oleh pendengar atau pembaca sehingga menimbulkan dampak psikologis yang mendorongnya untuk bertindak. Jika orang arab membaguskan tuturan, memperindah ungkapan, dan menghiasinya dengan aneka sarana, hal ini semata-mata untuk mementingkan makna.

    5.Keberadaan I’rab.
    I’rab adalah tanda baca yang diwujudkan dalam bentuk fathah (penanda vokal a), kasrah (penanda bunyi i), dhammah (penanda bunyi u), dan sukun (penanda huruf mati). Dengan tanda inilah setiap fungsi sintaksis di dalam sebuah kalimat menjadi jelas. Pembaca akan dengan mudah membedakan subjek, predikat, dan objek.

    6.Dinamika dan Kekuatan Bahasa Arab.
    Dinamika dan kekuatan bahasa arab, misalnya, tercermin dari perubahan tiga huruf, yaitu kaf lam, dan mim. Ketiga huruf ini dapat berubah menjadi kalama (berbicara), kamala (sempurna), lakama (menampar), makala (menyusut), dan malaka (memiliki). Setiap makna inipun memiliki variasi makna sesuai dengan konteksnya.

    BAB V
    METODE, PROSEDUR, DAN TEKNIK PENERJEMAHAN.

    Jenis Metode Penerjemahan.
    Dalam khazanah penerjemahan di dunia arab, metode penerjemahan terbagi dua jenis: metode harfiah dan tafsiriah.
    Metode harfiah ialah cara menerjemahkan yang memperhatikan peniruan terhadap susunan dan urutan nas sumber. Cara ini diikuti oleh Yohana bin al-Bathriq, Ibnu Na’imah, al-Hamshi, dsb. Yang menjadi sasaran penerjemah harfiah ialah kata.
    Adapun metode tafsiriyah ialah suatu cara penerjemahan yang tidak memperhatikan peniruan susunan dan urutan nas sumber. Yang dipentingkan oleh metode ini ialah penggambaran makna dan maksud bahasa sumber dengan baik dan utuh. Yang menjadi sasaran metode ini ialah makna yang ditunjukkan oleh struktur bahasa sumber.

    Jenis Prosedur Penerjemahan.
    Istilah prosedur dibedakan dari metode. Konsep yang pertama merujuk pada proses penerjemahan kalimat dan unit-unit terjemah yang lebih kecil, sedangkan konsep kedua, mengacu pada proses penerjemahan nas secara keseluruhan. Meskipun jumlah prosedur itu banyak, ada jenis prosedur yang dianggap sangat pokok dan sering digunakan oleh penerjemah. Diantara prosedur penerjemahan yang pokok tersebut ialah yang dikemukakan oleh Newmark (1988:81-93) berikut ini.

    1.Prosedur Literal.
    Prosedur ini digunakan jika makna bahasa sumber berkorespondensi denagn makna bahasa penerima atau mendekatinya, dan kata itu hanya mengacu pada benda yang sama, bahkan memiliki asosiasi yang sama pula.

    2.Prosedur Transfer dan Naturalisasi.
    Transfer dipahami sebagai prosedur pengalihan suata unit linguistik dari bahasa sumber ke dalam nas bahasa penerima dengan menyalin huruf atau melakukan transliterasi. Hal-hal yang biasa ditransfer ialah nama orang, nama geografis dan tofografis, judul jurnal, buku, majalah, surat kabar, karya sastra, drama, nama intuisi pemerintahan, swasta, masyarakat, dan nama jalan serta alamat.

    3.Prosedur Ekuivalensi Budaya.
    Dalam prosedur ini kata budaya bahasa sumber diterjemahkan dengan kata budaya bahasa penerima yang ekuivalent. Prosedur ini digunakan secara terbatas, karena tidak ada budaya yang persis sama, misalnya dalam nas yang bersifat umum, dsb.

    4.Prosedur Modulasi.
    Prosedur ini dipahami sebagai pengubahan pandangan atau perspektif yang berkaitan dengan kategori pemikiran atau pengubahan unsur leksis suatu unit linguistik dengan unsur linguistik yang berbeda dalam bahasa penerima. Misalnya, bentuk jama’ diterjemahkan dengan bentuk tunggal atau sebaliknya, kategori verba diterjemahkan menjadi nomina, dan kalimat aktif diterjemahkan dengan kalimat pasif.

    5.Prosedur Transposisi.
    Prosedur ini berkaitan dengan pengubahan dan penyesuaian struktur bahasa sumber dengan bahasa sastra. Prosedur ini ditempuh tatkala penerjemah tidak dapat menemukan struktur bahasa penerima yang sama dengan struktur bahasa sumber. Penerjemah, misalnya, dapat mengubah kalimat majemuk menjadi beberapa kalimat tunggal, bentuk tunggal menjadi jama’ atau sebaliknya, atau kategori verba menjadi nomina.

    Teknik Penerjemahan.
    Pada hakikatnya teknik merupakan penjabaran dari penerjemahan atau sebagai tahapan dari langkah sebuah prosedur. Prosedur transposisi, misalnya, terkait dengan aspek-aspek struktural sebuah kalimat yang mengusung gagasan tertentu. Diantara aspek struktural itu ialah fungsi sintaksis, kategori kata, struktur frase, dan jenis kalimat. Setiap aspek ini pun bertalian dengan aspek yang menuntut perpecahan tersendiri. Fungsi sintaksis subjek dalam kalimat verbal bahasa arab, perlu ditransposisikan ke dalam bahasa Indonesia dengan memperhatikan kata pada aspek bilangan, definitive tidaknya kata tersebut, dan jantan betinanya. Cara pemecahan masalah seperti itulah yang dimaksud dengan teknik penerjemahan.

    Hubungan antara Metode, Prosedur, dan Teknik.
    Metode merupakan cara penerjemahan nas sumber secara keseluruhan, sedangkan prosedur merupakan cara penerjemahan kalimat yang merupakan bagian dari nas tersebut. Adapun teknik merupakan cara penerjemahan kata atau frase yang merupakan bagian dari sebuah kalimat. Teknik berfungsi untuk menjabarkan tahapan-tahapan pekerjaan yang mesti dilalui oleh sebuah prosedur, sedangkan prosedur berfungsi sebagai penjabaran dari metode penerjemahan sebuah nas. Metode, prosedur, dan teknik merupakan tahapan-tahapan kegiatan dari proses penerjemahan, yaitu proses pengungkapan makna nas sumber di dalam nas penerima.

  6. Wah, betul, mal. Nek kanggo aku pribadi moco tulisan arab melayu gak masalah karena bisa dikira-kira sesuai dengan konteksnya. Itupun kalo hanya bingung satu kata. Kalau kita dasarnya bisa ngaji yo gampang nek moco tulisan arab melayu.
    Nah, sing dadi masalahku nek moco tulisan arab “gundul” pada teks berbahasa Arab, aku gak iso blas…
    Aku gak nyumbang teori2 tentang ini, tapi aku berharap awakmu bisa menemukan cara atau teknik yang bisa membuat orang bisa membaca tulisan arab “gundul”.
    Aku yakin kamu bisa. Kamu kan pinter dan cerdas…

  7. fitri kalau kamu mau menulis atau buat skripsi harus merenung dan memperhatikan judul kemudian apa yg menjadi alasan atau latar belakang judul yang kamu buat tentukan Permasalahannya dan brigdon
    menjadi Pokok2 Persoalan maka bahaslah dengan tinjauan Teoritis (Refrensi) selanjutnya buat pola /Sistem kemanaakan kamu bahas dala bentuk struktur penulisan pahami benar apa ada kaitan dengan kelembagaan birakrasi atau kehidupan sosial dan Norma(hukum)serta media Komunikasi serta Management dan kenalkan dengan IT serta Marketing selamat bekerja dan berjung segera selanjutnya cari S2 baru jadi Wartawan atau Presenter

  8. Ada sebuah pesantren di probolinggo yg sanggup membuat orang bicara dengan bahasa mana saja, sesuai keinginan. dengan ritual tertentu dan amalan tertentu si kiyai sanggup membantu seseorang menguasai bahasa. jadi ngapain belajar kaidah ini itu utk memahami bahasa, datang saja ke pesantren yg sy maksud tadi. salam kenal…

  9. Saya punya tiga judul buku teknik membaca kitab kuning sistematis, praktis dan evisien : 1. Musyawarah Kitab Kuning Thoriqoh (MKKT) 2. Kaidah Thoriqoh 3. Thoriqoh Shorfiyah. Pemesanan hubungi +6281931563000

  10. Saya punya tiga judul buku teknik membaca kitab kuning sistematis, praktis dan evisien : 1. Musyawarah Kitab Kuning Thoriqoh (MKKT) 2. Kaidah Thoriqoh 3. Thoriqoh Shorfiyah. Semua tercover dalam bentuk CD dan terdapat kl. 35 judul kitab dan buku baru yang sangat penting dibaca oleh para guru dan siswa. Pemesanan CD, hubungi +6281931563000 (SMS) atau email: muhsin.amir@gmail.com / dadduwi@gmail.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s